4minus
Indahnya
mentari pagi membangunkanku dari tidur nyenyak disebuah kasur empuk
apartemenku. Detik jam mengingatkanku untuk segera melakukan kewajibanku
sebagai seorang muslim yakni melaksanakan ibadah sholat subuh dan tak lupa juga
tentunya untuk memanjatkan do’a kepadaNya. Selesai melaksanakan sholat subuh
aku duduk termenung dipinggiran kasurku sambil melihat sebuah foto usang yang
tak pernah berpindah dari meja indah dikamar tidurku. Nampak empat orang anak
yang terlihat begitu semangat untuk menggapai tujuannya. Keempat orang anak
tersebut adalah aku dan teman-temanku. Nampak jelas dari sebelah kiri terlihat
Anwari seorang anak yang memiliki tubuh sangat besar dan bisa juga dibilang
sangat gendut. Nama lengkapnya adalah Muhamad Anwari. Dia seorang anak dari
daerah pedalaman pubian yang memiliki keinginan untuk membangun toko bangunan
didaerahnya. Dan impiannya yang sering membuatku berdecak kagum adalah dia
memiliki impian untuk membuat maju daerahnya. Kemudian disebelahnya lagi Nampak
seorang anak dengan postur tubuh yang sangat kurus dan juga tinggi. Dia
memiliki leher yang panjang dan juga tatanan rambut mengarah keatas semua
layaknya Ultraman. Namanya adalah Yogie, nama lengkapnya Muhammad Yogie
Haryana. Diantara teman-temanku yang lainnya dia adalah sahabatku yang sangat
dekat denganku bahkan aku menganggapnya sebagai saudaraku sendiri. Dia adalah
anak orang kaya yang memiliki kepribadian aneh. Saya mengatakan dia aneh karena
dia selalu kesulitan dalam mendekati wanita yang dia sukai. Padahal dengan isi dompet
dan juga tungganganya seharusnya dialah yang paling produktif untuk mencari
pasangan diantara kami. Diurutan ketiga dari sebelah kiri kali ini aku melihat
seorang anak yang terlihat sangat kecil dan juga pendek. Namanya adalah heru
Apri saputra. Dia termasuk anak yang pandai bermain sepakbola dengan tubuhnya
yang mungil. Selain itu dia juga sangat antusias terhadap hal-hal yang bersifat
sejarah baik itu mitos maupun nyata. Dan terakhir disebelah heru Nampak seorang
anak yang berumur 17 tahun namun memiliki wajah yang terlihat seperti
71tahunan. Yah itulah aku, namaku jalaludin alkhotami. Ada banyak sekali hal
yang bisa kulakukan dan pada saat itu dan bisa dibilang aku ini multi talenta.
Hal ini disebabkan karena aku pandai dalam berbagai bidang seperti music,
edukasii, olahraga, dll.
Keika
memandangi foto usang itu fikirankupun melakukan flashback jauh kebelakang
sekitar 10 tahun silam yaitu tepat dimana aku bertemu dengan mereka bertiga.
Aku bertemu dengan mereka disalah satu sekolah menengah atas negeri didaerah
lampung. Awalnya aku belum berteman terlalu akrab dengan mereka, namun setelah
beberapa bulan bersekolah disana aku pun
mulai mengenal satu persatu dari mereka. Orang pertama yang aku kenal dari
ketiga sahabat karibku adalah Anwari. Saat pertama kali aku melihatnya aku
mengira dia adalah anak yang pandai dan juga memiliki tingkat kecerdasan
intelektual yang tinggi. Awal aku mulai mengobrol dengannya adalah ketika aku
berada dikelompok satu ospek sma negeri 1 kalirejo. Siswa yang berada dikelompok
satu ini adalah para siswa yang pada saat pengumuman hasil nilai test masuk SMA
berada diurutan 1-40. Aku benar-benar mengira kalau semua siswa yang ada
dikelompok satu ini adalah siswa-siswa yang cerdas dan memiliki tingkat
intelegent yang tinggi. Namun perkiraanku ini mulai terpatahkan setelah aku
bertemu dengan Anwari. Saat aku mengobrol dengannya terlihat jelas kalau dia
sama sekali tidak memiliki tingkat kecerdasan yang tinggi. Dia selalu berbicara
dengan menggunakan kalimat jorok dan tidak ada satupun kalimat yang
dikeluarkannya itu yang bersifat ilmiah. Namun entah kenapa walaupun dia sama
sekali tidak terlihat cerdas dan juga sering menggunakan kalimat jorok aku
tetap saja merasa nyaman mengobrol dengannya dan juga aku merasa ingin tetap
bersamanya. Rasa nyamanku mengobrol dengannya ternyata tidak sedikit memberikan
dampak negatif terhadapku. Karena terlalu sering mengobrol dengannya aku jadi
ikut-ikutan menggunakan kata-kata jorok dalam beberapa kalimat yang aku
ucapkan.
Berikutnya,
sahabat karib yang aku kenal setalah Anwari adalah Heru. Pria dengan postur
tubuh pendek dan juga kekar ini memiliki
tempat tinggal yang paling ramai diantara kami. Tidak jauh berbeda
dengan Anwari awalnya aku juga mengira kalau Heru ini adalah anak yang pandai
karena dia juga berada satu kelompok dengan aku saat ospek. Tapi yah sama
halnya dengan Anwari juga ternyata perkiraanku juga salah besar, ternyata gaya
bicara Heru ini lebih kasar dan kalimatnya juga lebih jorok. Dia selalu
berbicara seenaknya dan tidak pernah memikirkan apa yang akan terjadi jika dia
mengatakan kalimat itu. Yah, bisa dibilang dia adalah anak yang jujur dengan
caranya sendiri. Dia termasuk anak yang hebat saat ospek karena dia menjadi
ketua dikelompokku. Namun, proses bagaimana dia menjadi ketua dikelompok saat
ospek sangatlah konyol dan demokratis. Kejadiannya bermula ketika semua siswa
baru diperintahkan untuk berangkat dengan menggunakan celana training. Dan
siswa yang tidak menggunakan training akan disuruh maju kedepan untuk
mendapatkan hukuman.
Pagi
itu semua siswa dikumpulkan dihalaman sekolah sesuai dengan kelompoknya
masing-masing. Ternyata banyak sekali siswa yang tidak menggunakan training.
Kebanyakan dari mereka adalah anak-anak yang dengan sengaja tidak memakai
trainingnya walaupun mereka membawanya dan Heru merupakan salah satu dari
mereka. “Yang tidak memakai training dan seragam olahraga harap maju kedepan”
ucap salah satu kakak senior dari depan. Sepersekian detik setelah kakak senior
mengucapkan kalimat itu para siswa-siswa yang hanya membawa training namun
tidak mengenakannyapun segera berlarian menuju WC untuk segera mengenakan
training yang mereka bawa. Saat anak-anak tadi sedang sibuk untuk memakai
training yang mereka bawa di WC kakak senior meneruskan perintahnya. Perintah
kakak senior yang kedua ini adalah menyuruh tiap masing-masing kelompok untuk
memilih ketua dari kelompok mereka. Setiap kelompokpun dengan mudah memilih
ketua dikelompok mereka. Namun tidak bagi kelompok yang aku tempati ini.
Kebanyakan dari mereka ini adalah anak-anak pandai yang pendiam dan cenderung
tidak perduli dengan posisi ketua atau para penipu yang berpura-pura menjadi
anak pandai padahal sebenarnya tidak sama sekali, contohnya adalah Anwari dan
Heru. Disaat kelompok kami sedang kebingungan mencari anggota yang bersedia
menjadi ketua kelompok Heru tiba-tiba datang bak seorang pahlawan. Heru datang
dengan terburu buru sambil tangannya membenarkan posisi celananya. “Her, kamu
disuruh maju kedepan sama senior” ucap salah satu anggota kelompok kami yaitu
Dian Yulistin. Sepersekian detik setelah Dian mengucapkan kalimat itu anggota
kelompok yang lainpun serempak mengucapkan kalimat “Iya Her, kamu disuruh maju
kedepan cepetan”. Padahal sebenarnya siswa seperti heru yang baru saja bergati
celana itu sama sekali tidak diperintahkan untuk maju kedepan. Namun, dengan
wajah konyolnya Heru menurut saja dengan perintah para angota kelompok kami.
“Beneran apa aku disuruh maju? Majunya dibagian yang mana?” ucap Heeru dengan
nada yang mencerminkan kalau dia masih dalam keadaan bingung. “Iya beneran,
disitusebelahnya Danu” Jawab Dian dengan nada setengah cekikan. Heru akhirnya
maju dengam kondisi yang masih bingung. Tanpa disadari oleh Heru, kini dia
sudah berdiri disamping ketua kelompok yang lain. Heru sudah mulai merasakan
keanehan ketika dia melihat orang-orang yang berdiri disampingnya. Gilaa, kok gue ngerasa kayak diplanet lain
ya, atmosfernya bener-bener beda Batin heru dalam hati. Tak lama setelah
Heru maju kedepan anak-anak yang tadi disuruh maju gara-gara tidak mengenakan
trainingpun sudah mulai berlali mengelilingi halaman upacara. Keanehan kini
mulai merasuk semakin dalam dibatin Heru. Dia kini benar-benar merasa didunia
lain. Mukanya mulai panas dan sekujur tubuhnya mulai gemetar kecil yang
menandakan kalau ia kini sedang dalam keadaan gugup dan panik. Pikirannya
benar-benar bekerja keras kali ini. Pikirannya mulai menebak-nebak dan mencoba
mencari jawaban dari setiap peluang yang ada untuk dirinya sendiri.
“Buat
para ketua yang sudah dipilih oleh anggota kelompok masing-masing saya
persilakan untuk mulai memperkenalkan diri.” Ucap kakak senior yang sedari tadi
telah sibuk mengurusi anak-anak baru. Mendengar ucapan kakak senior Heru makin
panic dan gugup. Namun ditengah kepanikannya Heru kini sudah mulai memperlembut
kerja pikirannya. Kini ia telah menemukan beberapa petunjuk yang bisa
mengarahkannya untuk semakin dekat dengan jawaban yang ia cari. Benar saja,
perkiraan untuk jawabannya ternyata
benar seratus persen. Kini heru sudah mulai mengerti situasi apa yang ia
hadapi. Ia pun kini sudah sadar total bahwa dia bukan berada didunia yang lain.
Haru menatap kami semua anggota kelompok satu dengan raut wajah yang sangat
lucu. Nampak dimatanya sebuah kejengkelan yang amat mendalam dan juga sebuah
kebanggaan yang begitu besar. Sejenak setelah Heru sadar kalau ternyata dia
telah ditipu oleh kami kini ia bukannya marah tapi malah tampil sok tenang dan
bersikap seperti pahlawan yang sesungguhnya. Kami semua anggota kelompok
satupun semakin dalam tenggelam dalam tawa. Namun tetap saja ia masih belum
bisa menyembunyikan kepanikan dan kegugupan yang sejak awal sudah merambat
keseluruh bagian tubuhya. Melihat kondisi Heru saat ini semua anggota kelompok kami terutama
anggota yang berasal dari smp yang sama dengan Heru mulwai menunjukan tawa
jahat dan rasa puasnya. Kami anggota kelompok yang tidak berasal dari kelompok
heru pun ikut menunjukan rasa bahagia
yang amat mendalam. Benar-benar hiburan yang sangat menarik. Seperti sedang
berada dalam sebuah gedung yang sedang mengadakan kontes lawak. “Hahahahaa,
gilaa mukanya konyol abis” ucap salah seorang anggota kelompok yang tidak aku
kenali. Yang lainpun ikutan menimpali dengan kalimat yang tidak kalah histeris.
“Hahaha heru-heru, dari dulu lo ternyata masih belum berubah tetep konyol dan
menyenangkan” ucap Dian. Diantara kami semua, Dianlah yang paling antusias
untuk menjahili Heru. Dian ini tidak berasal dari smp yang sama denganku, tapi
aku cukup tau siapa dia karena dia tinggal dikompleks yang sama denganku. Dia
adalah seorang wanita berkulit coklat bersih dengan mata sayu dan juga rambut
lurus. Dian termasuk anak yang cantik dan juga cerdas, dia bahkan diterima
diurutan ke 11 saat pengumuman hasil test masuk SMA. Dia berasal dari smp yang sama dengan Heru
dan nampak jelas sejak awal ospek dimulai kalau Dian ini selalu memerhatikan
Heru.
Setelah
semua ketua memperkenalkan diri dan mendengarkan pengarahan dari kakak senior
akhirnya para ketua diizinkan untuk kembali bergabung bersama-sama anggota
kelompoknya masing-masing. “Gimana Her, lo pasti bangga banget kan bisa jadi
ketua kelompok satu yang hebat banget ini wkwkwk” sapa Dian yang kini sudah berada disebeleah Heru. “gila lu
yan, hampir mati gua tau ngga. Mimpi apa ini gua semalam, tiba-tiba baru
pertama berangkat udah dikasih kejutan dan juga dijadiin bahan tontonan sama
anak-anak yang beberapa masih asing banget mukanya” Jawab Heru dengan nada agak
stress. “Hahaha sabar aja Her, ini masih diawal, nanti juga masih ada banyak
banget kejutan yang harus lo lewatin, lagian lo itu pantes banget kok jadi
ketua kelompok” ucap Dian. Air muka Heru
memerah mendengar ucapan Dian. Tubuhnya seperti mendapat setruman listrik kecil
yang membuat tubuhnya bergetar. Rasa bahagia mulai merambat menyusuri seluruh
sel yang ada didalam tubuhnya. Meskipun semua anggota kelompok sedang asik
mengobrol Heru tak bisa mendengar apa yang anggota kelompok obrolkan. Sejenak
keheningan terasa diantara Dian dan Heru. Dan entah kenapa aku sangat antusias
memperhatikan mereka berdua. Aku seperti melihat suatu ikatan yang benar-benar
tak bisa disembunyikan diantara mereka berdua.
Sign up here with your email
ConversionConversion EmoticonEmoticon